Mahasiswa Curang Salah Siapa?

  1. Salah pribadi mahasiswa sendiri
  2. Salah pengawas ujian
  3. Salah dosen

 

imagesd
Source

Apa terlalu utopis jika seandainya berharap bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang haruslah berbanding lurus dengan kejujuran?

Menghadapi persoalan di atas, ada 3 aktor yang mungkin bersalah satu-satunya atau ketiga-tiganya.

Mahasiswa yang terbiasa tidak jujur. Ini persoalan klasik bahwa proses perjalannya dari sebelum menjadi mahasiswa, sudah terbiasa tidak jujur. Rasa bersalah akan ketidak jujuran sudah lama mati sejak bertahun-tahun lalu. Sudah tidak ada aling-aling antara jujur dan tidak jujur, biasa saja. Mudah mana? tidak jujur. Untungnya praktis dan instan. Apa yang ingin diharapkan bahwa diri mahasiswa sendiri sebagai garda terdepan kejujuran sudah lemah nan bolong.

Pengawas bersalah karena kurang awas. Seharusnya pengawas tidak hanya membagikan soal, mengedarkan presensi dan menanda tangani KRS. Pengawas diharap untuk berkeliling mengawasi gerak-gerik mahasiswa yang khusuk mengerjakan ujian.Sesekali harus menegur atau tegas mengeluarkan mahasiswa yang curang. Pengawas punya otoritas ini karena memang sudah tugasnya. Tidak ada kata maaf untuk ketidak jujuran. Jika pengawas bertindak sebaliknya, apalagi terkesan membiarkan. Sudah sepantasya pengawas tersebut didpertanyakan dedikasinya. Tidak tahukah bahwa pembiaran ini akan berdampak bertahun-tahun ke depan?

Dosen tidak kreatif. Soal-soal yang disajikan dosen cenderung membuka peluang untuk berkembangnya ketidak jujuran. Percis mahasiswa diminta jawaban yang sesuai dengan teks bukan analisis. Dosen mengujikan teori-teori yang berbelit-belit, sehingga tidak ada pillihan selain tidak jujur.

Membaca tiga paragraf di atas, bukankah rasanya kecurangan mahasiswa terjadi sepenuhnya kesalahan pengawas dan dosen. Sengaja bingkai tiga paragraf dibentuk seperti itu. Mari dimulai dari dosen.

Dosen sepenuhnya punya hak tentang bagaimana mengukur kapasitas pemahaman mahasiswanya. Ia, sebelumnya sudah berpikir jauh hari bagaimana metodenya  menyusun SAP, mengajar materi, dan menilai kemampuan mahasiswanya. Kiranya pantas, mau bagaimanapun dosen memberikan tipe-tipe soal yang akan dikerjakan mahasiswanya. Entah berbentuk teori yang berbelit-belit nan hapalan atau analisis. Jadi, masih menyalahkan dosen? Mari beralih kepada pengawas.

Pengawas masih manusia yang bisa luput. Seawas-awasnya dosen, ia bukan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Tugasnya memang mengawasi sebaik-baiknya.

Mahasiswa yang paling bersalah sebenarnya. Seharusnya, setidak ketatnya pengawas dan kesulitan soal dari dosen tidak pernah jadi alasan pembenar bagi ketidak jujurannya. Begitu ya? bisa dipahami. Mahasiswa (seharusnya) tidak pernah membiarkan dirinya tidak jujur, bila perlu mengutuk ketidak jujuran tersebut. Bagi mereka, pendidikan bukan merupakan suatu formalitas semu. Pendidikan tinggi –yang diharapkan pemerintah–adalah upaya untuk membentuk suatu budaya kejujuran dalam hal akademis. Apa jadinya bila terjadi sebaliknya? Bibit-bibit ketidak jujuran malah tumbuh, berkembang dan dipelihara oleh sudut-sudut kampus. Semoga saja mahasiswa masih punya nurani dan rasa bersalah ketika ingin tidak jujur. Semoga mereka menghargai dirinya sendiri melebihi dari nilai-nilai tinggi hasil ketidak jujuran. Karakter mereka tidak bisa diukur dari transkrip ijazah, terlalu murah rasanya.

Mari bermimpi tentang kejujuran yang tumbuh, berkembang, dan dipelihara oleh kampus. Penelitian dan kemampuan mahasiswa akan meningkat tajam. Seiring mereka mellihat bahwa tidak ada yang bisa membantunya mendapat nilai tinggi kecuali belajar, karena ketidak jujuran merupakan hal mereka anggap hina untuk dipikirkan apalagi dilakukan. Mahasiswa akan sibuk belajar mati-matian, berdiskusi tiada habis dengan teman, berkonsultasi tanpa lelah dengan dosen. Indah nian mimpi tersebut.

Mahasiswa yang baik, tidak peduli dengan ketat atau tidak ketatnya pengawas pada ujian atau bagaimana sulit dan model soal yang disajikan dosen. Sejatinya, yang terpenting adalah integritas sebagai mahasiswa. Ujian bukan meraih nilai tinggi tapi sebuah ajang untuk menilai seberapa jauh pemahaman mereka terhadap materi.

 

 

 

 

 

Cinta dalam Setangkai Mawar

images
Source

Helai mawar berguguran

Terlepas satu per satu dari kelopak

Warnanya memudar

Menunggu waktu saja untuk layu

Dan kemudian dilupakan

Digantikan oleh kuncup yang mekar

Menebar aroma sepanjang jalan

Lalu, setelah dinilai cukup

Berguguran kembali dan seterusnya

Begitukah?

Seperti itukah cinta dengan perlambangan mawar itu?

Berharap mengabadi dalam cinta

Haruskah mencari perlambangan abadi

Karena mawar tak merepresentasi

 

 

 

 

 

New Home

Let me introduce my new friends at college!

From right-below side: Firman Kayyis, Ilham Fais, Riziq Muh, Hanifah Ham, Putra Jay, Muhlisin Asd, Masla Viv.

From left above: Bayu Hab, Rafiq Ahm, Husnil Nst, Yessy Seit, Linda Wai, Buti Ras, Naning Fad, Trikod Nis, Vina Ind, Annisa Nur, Shofia, Ratna Dev, ME, Dhika Tra, Devi Lia, Irma Mel.

Center: Mr. BADRUN and Hamse Ahmad

Back: Alfi Nur and Rizky Prs

I have never noticed him, at first. He is so so. There’s any physical attractions. But if he starts to speak you’ll seethe difference. He is so attractive. More attractive that I’ve imagine before. We had the opposite way when we go home. I remember that he shouted when I, accidentally touched his hand.. haha.. but, I didn’t take any responses to his shouted 

Rumah Tuhan Rumah Difabel; An another serendipity

Jumat, hari terakhir kuliah. Saya ngantuk sekali siang hari tadi, saat menunggu kedatangan dosen yang absen. Saya pikir ini efek kecapaian setelah tadi malam menelusuri sudut-sudut Malioboro. Akhirnya, saat waktu toleransi keterlambatan habis, saya yang setengah tertidur di kelas, terbangun dengan ajakan teman untuk mengerjakan makalah di perpus. Dengan langkah gontai saya menuju perpus lewat arch bridge sendirian. Ya sendirian karena teman saya tadi ke perpus dengan teman yang lain. Sesampai di perpus kita pun saling miskomunikasi, saya menunggu di ruang serial yang terletak di lantai dua. Sedang teman saya menunggu di lantai empat. saya pun beranjak ke lantai empat. kemudian kami mengerjakan makalah. Setelah cukup lama, saya buka WA Grup Sahabat Inklusi 2016. Ada informasi acara diskusi rutin Jumat Malam dan pembica bukan orang asing lagi, “Manten Anyar” Dr. Arif Maftuhin, M.A. Beliau adalah kepala PLD, bapaknya para relawan dan difabel. Bertempat di ruang rapat Lt.2 Rektorat Lama. Judul diskusi ini menarik bagi saya, yaitu :Rumah Tuhan Rumah Difabel”.

Setelah maghrib, barulah saya keluar perpus. Saya pulang ke kos dan mandi, kemudian keluar lagi. Saya melewati jalan biasa, saya cukup kaget ternyata banyak kendaraan roda dua yang berjejer rapi dan muda-mudi hilir-mudik. Rupanya ada pengajian akbar yang berlokasi di Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga. Saya bukannya tidak tahu tentang acara pengajian akbar ini, saya cuma kehilangan minat.

Saya tiba di Gedung Rektorat Lama dan duduk sebentar di lobi.  Ada seorang laki-laki paruh baya yang sangat tidak asing bagi saya. Ya beliau adalah dosen saya, Bapak Prof. M. Abdul Karim, Double M.A.. Saya ingin terlebih dahulu menyapa beliau, akan tetapi beliau sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Tidak enak hati. Saya berpikir, kiranya pa yang beliau lakukan di sini? Saya memutuskan naik ke lantai dua.

Saya berkenalan dengan beberapa mahasiswi antar fakultas, kami pun bersama-sama masuk. Sebelum masuk kami diberi oleh panitia segelas teh hangat, roti, dan fotokopi makalah. Sekilas saya melirik judul makalah, Ternyata dua malam sebelumnya, saya sudah mengunduh sekaligus membaca makalah atau lebih tepatnya artikel ini di jurnal online. Judulnya “Aksesibilitas Ibadah bagi Difabel: Studi atas Empat Masjid di Yogyakarta”. Anda bisa mampir dan mengunduh makalah di sini. “Serendipity!!! “. Pekik dalam hati.

Saya memilih duduk dan sibuk dengan smartphone, sedang peserta lain sibuk membuka lembar-lembar mfotokopi makalah. Tidak lama kemudian, acara pun dimulai. Pertanyaan terjawab sudah, ternyata bapak dosen saya adalah moderator acara ini. Di sebelahnya Pak Arif-sang pembicara-sedang sibuk dengan notebook-nya.

Acara dibuka dengan pembacaan bismillah oleh Pak Karim, di layar proyektor sudah tertulis “Aksesibilitas Ibadah”. Pak Karim memberikan pengantar, tidak lama. Kemudian, Pak Karim menyilahkan Pak Arif untuk berbicara. Sebagai Intermezzo, Pak Arif memberikan aforisma, “Semakin tua usia Anda, semakin Anda ingin ke Masjid. Tetapi, semakin tua usia Anda, semakin Masjid tidak ramah bagi Anda”.  Pak Arif menjelaskan latar belakang penulisan artikel ini dengan kalimat-kalimat pendek dan mudah dipahami. Khas beliau, ada bumbu humor yang segar.  

Pak Arif menjabarkan sudut lain dari sebuah”Ibadah” bagi orang awam, seperti kami. Bahwa, Fikih atau ibadah tidak melulu urusan perspektif normatif atau semata-mata kewajiban. Fikih juga mengandung unsur hak yang harus dipenuhi.

Penelitian ini terinspirasi dari proyek Amerika Serikat yang bernama “Accessible Congregation” yaitu, sejauh mana tempat ibadah di Amerika secara fisik, komunikasi, dan sikap bisa diakses dengan mudah oleh para penyandang disabilitas. Ini merupakan hal baru dan asing di Indonesia.

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah sejauh mana masjid-masjid di Yogyakarta ramah bagi para difabel. Pembatasan dilakukan dengan hanya pada tiga masjid penting di Yogyakarta: Masjid Agung Kauman, Masjid Syuhada Kotabaru, dan Masjid Kampus UGM. Selain ketiga masjid tersebut, oenelitian juga dilakukan di Masjid UIN Sunan Kalijaga. Berbeda dengan ketiga msasjid di atas, Masjid UIN Sunan Kalijaga sejak awal perencanaan arsitekturnya sudah “dijejali” dengan ide-ide inklusi dan diklim sebagai masid yang aksesibel.

to be continued..

 

 

 

500 Contoh Surat untuk Hal-hal yang Sulit Disampaikan

Buku ini akan ada dijajaran rak English Literature nantinya, Nak.

Buku yang seharga 2 hari makan ini-setelah dipotong harga- bukan buku biasa. Ada perjalanan seru yang ku lewatkan bersama seorang sahabat dalam hembusan angin malam Malioboro, tempat aku membeli. Nanti pada saatnya, kau akan bertanya, tak hanya tentang apa buku ini. Kau juga akan bertanya bagaimana cerita berburu buku ini. Karena baik aku atau bapak adalah dua orang yang sama, ketika keluar dan jalan-jalan tidak akan pulang tanpa buku.

Biarlah Nak, uang 2 hari makan tidak seberapa dibanding kemanfaatannya berpuluh-puluh tahun mendatang.

Yogyakarta, 6 Oktober 2016

Akal: Anugerah dan Cobaan

Sekali lagi, akal menjadi anugrah sekaligus cobaan terbesar dalam kehidupan manusia. Akal membuat manusia menjadi mulia. Tak tanggung-tanggung, Makhluk paling mulia nan sempurna yang pernah Allah ciptakan. Di sisi lain, manusia bisa menjadi lebih hina daripada hewan, sebab hewan tak berakal. Tetapi manusia berakal tapi terpedaya dengan nafsunya.

Isu yang hangat tentang tipu-tipu, saya ingin menyalahkan kapitalisme saja, karena latar belakang meraka tertarik dengan model penipuan penggandaan uang yang instan, disebabkan oleh gaya hidup hedon. Hedonisme yang membuat kita menghabiskan uang sangat cepat. berapapun jumlah uang di tangan ketika keinginan diikuti maunya, dan ketika keinginan itu tumbuh subur sebab banyak sekali pemuas keinginan yang bertebaran di sekitar. jadi, jika kita punya uang seberapa banyak pun itu tidak akan pernah cukup.

kalau ingat Ibu saya, beliau bilang bahwa membelanjakan uang sekarang sangat cepat. Mudah saja, ketika uang di tangan begitu cepat habis, kita berpikir seharusnya mendapatkan uang harus cepat pula. As fast as spend money, get money should fast too. Nah, akhirnya godaan penggandaan uang yang instan tak dapat dielakkan. Ditambah dengan hal berbau mistik yang tak masuk akal adalah jalan keluarnya. Padahal masalah uang yang cepat habis ketika dibelanjakan adalah masalah tentang manajemen keuangan tersendiri, itu kurang disadari. Ketika semakin tinggi penghasilan, maka ‘haruslah’ semakin tinggi pula gaya hidup. Lagi-lagi gengsi dan kawan-kawan muncul.

Semoga saja Allah menghindarkan hal buruk di atas menimpa keluarga kita. Kita doakan, semoga ayah-ayah kita atau ibu-ibu kita atau sesiapapun tulang punggung keluarga kita, dapat istiqomah dalam mencari rizki yang halal lagi baik untuk kita, keluarga kita. Karena kita tak sanggup menahan panasnya api neraka, tapi kita masih bisa bersabar atas rasa lapar.

Sebagai anak yang baik, kita terapkan saja hidup yang wajar-wajar saja. Makan ya makan, sekadar untuk menutupi rasa lapar. Bukan untuk menutupi rasa lapar gengsi karena di album instagram belum ada foto makan di restoran mewah. Allah lindungi kami, jangan sampai karena keinginan buta nan tak sepadan dengan kemampuan orangtua kami, menyebabkan mereka berputus asa dalam hal mencari rizki yang halal lagi baik. Karena kami sedikit-banyak merasakan bahwa rizki yang halal lagi baik tersebut membuat kami menjadi orang yang mudah untuk beribadah kepada-Mu serta membuat kami berusaha menjadi khalifah terbaik di dunia ini. Sesuai tujuan penciptaan, hanya kepada-Mu kami kembali. Surga adalah sebaik-sebaik tempat menetap dan tempat kediaman.

Yogyakarta,

Orientasi Kerelawanan PLD

 

wp-1475463968468.jpg Sabtu siang gerimis mengantar saya ke gedung Rektorat Lama. Saya melirik angka digital di layar smartphone, 13.00. Pas sekali! Suasanana ruang tempat orientasi di lantai 3 sudah ramai, para volunteer rupanya sudah bersiap-siap. Acara dibuka oleh Kak Jumali, seorang volunteer angkatan 2015. Dia membawakan acara dengan lucu. Dia meminta kami memperkenalkan diri kami masing-masing karena pembicara sedang di jalan. Saya melihat dua  homemates saya, Riska, Teknik Informatika dan Winda, PAI, juga ikut acara ini. Kami memang janjian. Saya tidak sendiri, saya membawa teman sekelas saya, Icha untuk ikut orientasi ini. Ini adalah kali pertama saya  mengikuti orientasi PLD, gelombang terakhir untuk relawan. Orientasi  yang bertajuk “Relawan: Resourceful and Helpful”.

Dr. Arif Maftukhin adalah kepala PLD UIN Sunan Kalijaga sekaligus narasumber dalam acara ini, rupanya beliau adalah seorang relawan angkatan-0 di PLD atau dlu disebut PSLD. Beliau bercerita awal mula berdirinya PLD, karena inisiatif dosen-dosen UIN yang menempuh pendidikannya di Amerika khususnya McGill University. Mereka melihat bahwa di kampus McGill ada sebuah unit yang berperan untuk membantu dan melayani para mahasiswa difabel.

Mulai dari sini, dosen-dosen “Montreal” tersebut berpikir bahwa di UIN ada mahasiswa difabel tapi belum ada unit yang bertugas membantu. Oleh karena itu mereka sepakat untuk mendirikan PSDL atau PLD. Pada awal mulanya, untuk operasional PLD digunakan uang iuran para dosen-dosen bergaji kecil tersebut. Kemudian sempat bahwa relawan itu dibayar IDR12.000/hour. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena ada seorang mahasiswi yang menolak untuk dibayar sambil menitikan air mata dan berkata,” we are here not to get coin but point!” Wow, sejak saat itu PLD tidak menggaji para relawan baik hati sampai sekarang.

Fokus di PLD adalah bagaimana lingkungan kampus, dari mulai mahasiswa, staf, dosen bisa memahami pendidikan inklusi yang sudah disematkan di dalam visi UIN Sunan Kalijaga Sendiri serta memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus.

Ada banyak divisi yang dapat kita pilih sebagai seorang relawan di PLD. Di antaranya adalah:

  1. Pendampingan mobilitas
  2. Pendampingan kuliah
  3. Pendampingan belajar
  4. Media alternatif dan teknologi bantu
  5. Bahasa isyarat
  6. Advokasi media, dan
  7. Advokasi sosial.

Jadi, anda bisa mengikuti divisi yang sesuai dengan passion anda. Kalau saya lebih tertarik di advokasi media karena divisi itu banyak mengajarkan marketing online hehe selain basic penulisan itu sendiri. Apagi PakDir adalah orang yang sophiscated banget nget.

Tentu sebagai seorang relawan baru saya ingin mencoba semua (ketujuh-tujuhnya) biar berpengalaman. Di sini kami juga belajar untuk lebih menjadi seorang yang visioner ke depannya.

Selamat Bergabung di PLD.

“From IMPOSSIBLE to I’M POSSIBLE”